Viral WNI Berhijab Jadi Tentara AS, Aturan & Fakta
Belakangan ini, publik Indonesia dikejutkan oleh video viral di media sosial. Klip itu menunjukkan momen haru seorang perempuan berhijab berpamitan dengan slot bonus new member keluarga sebelum berangkat untuk tugas militer bersama Angkatan Darat Amerika Serikat (AS). Video tersebut memicu beragam reaksi warganet dan pertanyaan terkait aturan serta mekanisme yang memungkinkan seorang Warga Negara Indonesia (WNI) beragama Islam bergabung dengan militer negara lain.
Siapa Sosok di Balik Video Viral?
Perempuan yang menjadi sorotan publik tersebut bernama Kezia Syifa, seorang WNI asal Tangerang, Banten, yang kini tergabung dalam Maryland Army situs slot server kamboja National Guard — komponen cadangan Angkatan Darat AS. Video yang beredar menunjukkan Syifa mengenakan seragam bertuliskan “US Army” sambil mengenakan hijab dan berpamitan dengan orang tuanya di bandara. Momen emosional ini kemudian menyedot perhatian pengguna media sosial di Indonesia dan luar negeri.
Status Kewarganegaraan dan Persyaratan Bergabung
Pertanyaan utama yang muncul adalah bagaimana seorang WNI bisa menjadi bagian dari militer AS. Jawabannya berkaitan dengan status imigrasi yang dimilikinya di Amerika Serikat. Untuk bisa mendaftar dan diterima dalam National Guard, calon personel tidak wajib menjadi warga negara AS. Mereka hanya perlu memiliki status permanent resident (Green Card) dan memenuhi persyaratan resmi lainnya.
Beberapa persyaratan dasar yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota National Guard antara lain: usia antara 17–35 tahun, minimal pendidikan setara SMA, skor tertentu pada tes kecakapan militer ASVAB, serta lolos pemeriksaan kesehatan dan standar kebugaran. Selain itu, pelamar harus lulus pemeriksaan latar belakang dan moral yang ketat.
Status Green Card memberikan hak tinggal dan bekerja secara permanen di AS tanpa harus menjadi warga negara. Ini memungkinkan Syifa tetap memegang paspor Indonesia sekaligus memenuhi kriteria pendaftaran di militer AS.
Peran Syifa di National Guard
Syifa saat ini menjalani latihan militer dan bertugas di bagian administrasi atau logistik, bukan di garis depan pertempuran. Perannya ini biasanya melibatkan dukungan operasional, manajemen logistik, dan fungsi internal lain yang krusial bagi kesiapan satuan. National Guard sendiri merupakan komponen cadangan yang direkrut di tingkat negara bagian tetapi dapat dikerahkan secara nasional saat dibutuhkan.
Aturan Hijab di Militer Amerika Serikat
Salah satu hal yang paling menarik perhatian publik adalah penampilan Syifa yang mengenakan hijab saat memakai seragam militer. Banyak yang bertanya apakah militer AS membolehkan atribut keagamaan seperti hijab dipakai oleh personelnya.
Militer Amerika Serikat memiliki kebijakan yang cukup progresif terkait hak beragama prajuritnya. Dalam beberapa tahun terakhir, angkatan bersenjata AS memperluas aturan agar personel dapat memohon akomodasi atribut keagamaan, termasuk jilbab, selama hal tersebut tidak mengganggu keselamatan, tugas, atau peralatan yang digunakan. Permohonan ini diajukan melalui proses resmi dan harus disetujui komandan yang berwenang.
Kebijakan ini menunjukkan dorongan institusi militer AS untuk menghormati keragaman latar belakang dan keyakinan agama di antara anggotanya.
Reaksi Publik dan Aspek Hukum
Kisah viral ini tidak hanya memicu kekaguman, tetapi juga diskusi di kalangan politik dan hukum. Beberapa pihak di Indonesia menyoroti isu kewarganegaraan dan dampak hukum bagi WNI yang bergabung dengan militer asing, karena peraturan Indonesia melarang warga negaranya bertugas di angkatan bersenjata negara lain tanpa izin resmi.
Isu ini membuka ruang dialog lebih luas tentang status hukum diaspora Indonesia di luar negeri dan batasan yang berlaku ketika mereka mengambil keputusan seperti bergabung dengan militer asing.
Kesimpulan
Kisah viral WNI berhijab menjadi bagian dari Angkatan Darat Amerika Serikat mencerminkan fenomena unik yang melibatkan migrasi, identitas agama, serta aturan militer yang lebih inklusif. Syifa bisa bergabung karena memiliki status permanent resident dan memenuhi persyaratan resmi. Selain itu, militer AS memperbolehkan penggunaan atribut keagamaan seperti hijab melalui proses akomodasi resmi. Namun demikian, fenomena tersebut juga memunculkan perdebatan mengenai regulasi kewarganegaraan Indonesia dan implikasinya bagi warga negara yang memilih jalur karier internasional.



